02
Aug
10

Review Final Piala Indonesia 2010

Kemarin, pada hari minggu tanggal 1 Agustus 2010 telah dihelat petandingan sepakbola yaitu final Piala Indonesia 2010 atau yang biasa kita kenal dengan Coppa Indonesia 2010. Pertandingan ini mempertemukan antara Sriwijaya FC melawan AREMA Indonesia di Stadion Manahan Solo. Pertandingan dijubeli puluhan ribu suporter kedua tim dan juga disaksikan jutaan pemirsa di negeri ini karena disiarkan langsung oleh Stasiun RCTI dipimpin oleh wasit nomer satu Indonesia Jimmy Napitupulu. Pertandingan ini akhirnya dimenangi oleh Sriwijaya FC dengan skor 2 – 1. Dengan kemenangan ini Sriwijaya FC mencatat hattrick dengan meraih 3 kali juara Piala Indonesia berturut-turut. 

Pertandingan yang berlangsung kemarin sangat ketat dan menghibur meski agak cenderung kasar. Kedua tim juga saling menyerang untuk meraih kemenangan. Kedua tim sama-sama punya ambisi dalam final Piala Indonesia kemarin. Sriwijaya FC memburu juara ketiganya di ajang Piala Indonesia sedangkan Arema Indonesia berambisi untuk meraih double winners musim ini. Pertandingan final Piala Indonesia kemarin sempat dihentikan ketika memasuki babak kedua, karena diisukan ada salah satu tim merasa dirugikan dengan kepemiminan wasit dan minta pergantian wasit. Ini dipicu oleh kartu merah yang diterima pemain Arema Indonesia asal Singapura yakni Nhoh Alam Shah dan tidak di kartu merahnya pemain Sriwijaya FC dengan pelanggaran yang sama.

Oke kita mulai sedikit menganalisa kemenangan Sriwijaya FC dan kekalahan Arema Indonesia di final Piala Indonesia. Pertama, pemain-pemain Sriwijaya FC kemarin merasa diatas angin karena lawanya Arema Indonesia harus bermain dengan 10 pemain sejak menit-menit awal babak pertama setelah striker andalan Arema diusir keluar lapangan. Ini sedikit banyak membuat Arema kelimpungan karena tidak target man di depan.

Kedua, ketidak hadiran sang kapten Arema Pierre Njanka pada final Piala Indonesia karena akumulasi kartu berpengaruh besar terhadap lini pertahanan Arema. Karena lini pertahanan Arema tidak ada sosok yang mampu membimbing, mengkoordinir, dan memberi motivasi. Selain itu hilangnya palang pintu pertahanan Arema ini juga semakin membuat irama pertandingan Arema mudah terbaca oleh lawan. Apalagi setelah keluarnya Along karena kartu merah tim Arema tambah  kebingungan. Kalau harus memasukkan striker baru untuk mengganti posisi Along maka Arema harus mengganti pemain tengah atau belakang. Tapi itu tidak mungkin karena lini belakang Arema sendiri juga kacau dengan tidak hadirnya Njanka. Karena itu pelatih Arema Robert Albert berusaha untuk memaksimalkan pemain yang ada di lapangan dengan mendorong Roman agak ke depan. 

Ketiga, pemain-pemain Sriwijaya FC pintar memprovokasi  pemain-pemain Arema. Kita lihat, lini belakang Arema yang  dikomandoi   Zulkifli Sukur ini sering terpancing emosinya. Lebih-lebih dengan tidak hadirnya Pierre Njanka malah semakin membuat lini pertahanan Arema seperti anak ayam kehilangan induk. Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh pemain-pemain Sriwijaya FC, mereka pintar memprovokasi untuk memancing emosi pemain Arema.

Keempat,   kepemimpinan wasit Jimmi Napitupulu yang dirasa berat sebelah yang akhirnya mengakibatkan tertundanya pertandingan babak kedua. Dari pertandingan kemarin Tim Arema memang pantas untuk marah atas kejadian di babak pertama. Striker Arema Alam Shah diusir keluar lapangan karena mengangkat kaki terlalu tinggi tapi tidak ada benturan keras sehingga pertandingan langsung bisa dilanjutkan setelah sebelumnya wasit mengeluarkan kartu merah untuk Alam Shah. Meski mestinya pelanggaran itu cukup dihadiahi kartu kuning dan peringatan keras. Di sisi lain wasit tidak memberikan kartu dan peringatan atas pelanggaran yang dilakukan pemain Sriwijaya FC terhadap Roman Chamelo,  padahal pelanggaran itu hampir mirip dengan apa yang dilakukan Along, bahkan pelanggaran itu dilakukan dari belakang. Ini berbeda dengan pelanggaran Along karena sama-sama berhadapan untuk berebut bola lambung, meski Along sedikit telat dengan datangnya bola. Ini yang memicu tensi dan emosi pemain Arema Indonesia naik sehingga sedikit mengacaukan ritme permainan Arema INdonesia.

Kelima,  campur tangan atau intervensi pihak luar dalam pertandingan kemarin juga sedikit banyak berpengaruh terhadap kedua tim. Dengan dihentikannya pertandingan ketika akan memasuki babak kedua membuat suasana semakin bertambah kacau. Intervensi pihak keamanan juga semakin menambah panjang keruwetan. Otoritas tertinggi sepak bola Indonesia harus kalah dengan aparat keamanan dalam memutuskan suatu pertandingan. Kalau boleh saya bilang : Jakarta kalah dari Jawa Tengah. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi mental bertanding pemain. Tapi yang lebih dirugikan tim Arema karena hanya bermain dengan 10 pemain. 

Itulah sedikit review dari penggemar sepakbola tanah air terhadap pertandingan final Piala Indonesia 2010. Maju terus sepakbola Indonesia, salam olahraga.


0 Responses to “Review Final Piala Indonesia 2010”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: